Definisi Dokumenter

Posted: September 1, 2010 in Uncategorized

I. Wacana

Banyak perdebatan tentang film, terutama dokumenter. Celakanya di Indonesia, perdebatan itu masih di sekitar wilayah pemahaman dasar, padahal di negeri-negeri tempat dokumenter itu berasal seperti Perancis, Russia, Inggris dan lain sebagainya, para pembuat dan teoritikusnya bahkan hampir tidak lagi berbincang tentang masalah realitas dan fakta, namun sudah lebih dari itu.

Satu dekade belakangan fenomena pembuatan film menjadi menguat terutama dikarenakan adanya lompatan teknologi video yang harganya menjadi sangat terjangkau.Sudah tidak aneh bila tiba-tiba saja ada orang yang mengaku sutradara, padahal di masa lalu hal seperti itu sangatlah sulit diraih. Perkembangan teknologi ini juga kemudian menjadikan film tidak lagi ekslusif, sehingga memungkinkan setiap orang yang bisa mengaksesnya untuk membuat film.

Sayangnya hal tersebut tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang produksi film itu sendiri, bahkan pengadopsian istilah-istilah dari dunia perfilman di barat (Amerika Serikat) menjadi sangat arbitrer. Contohnya saja ketika salah seorang pembuat film menggunakan istilah independen, maka hampir semua orang yang berhubungan dengan film menerjemahkannya dengan seenak pikirnya. Beberapa diskusi bahkan tidak mengetahui darimana istilah independen berasal, sampai-sampai ada yang menggunakan kata indische untuk mencari kata itu. Padahal kalau benar-benar membaca sejarah film terutama di Amerika Serikat, istilah itu tidak sulit untuk ditemukan bahkan sampai ke sejarahnya.

Kembali lagi pada pemahaman dasar produksi film, banyak pembuat film di Indonesia ini kemudian hanya tahu bahwa kalau membuat film itu ambil kamera, shoot dan masuk editing. Dalam dunia dokumenter sendiri bila mau shooting yang mereka lakukan adalah mendatangi narasumber dan wawancara. Setelah itu mereka tinggal mengambil gambar sekedarnya untuk disesuaikan dengan isi wawancaranya. Sekarang ini bisa dilihat, banyak dari para pembuat dokumenter itu tidak lagi memahami bagaimana cara bercerita yang baik ? Bagaimana merencanakan film dokumenter ? Apa mise en scene yang harus direkam ? Apakah suara penting dalam dokumenter ? Namun sebelum lebih jauh masuk ke permasalahan tersebut, maka ada baiknya kita melihat dulu apa definisi dokumenter, sehingga dapat dengan memudahkan atau membantu bagi yang ingin memulainya.

II. Definisi Dokumenter

1. Sesungguhnya kata ini muncul dari tulisan John Grierson ketika menanggapi film-film karya Robert Flaherty, terutama sekali Nanook of the North. Film yang berdurasi kurang lebih 1,5 jam itu tidak lagi ‘mendongeng’ ala Hollywood. Grierson kemudian menyampaikan pandangannya bahwa apa yang dilakukan oleh Flaherty tersebut merupakan sebuah perlakuan kreatif terhadap kejadian-kejadian actual yang ada (the creative treatment of actuality).

Walaupun definisi ini bertahan cukup lama, kemudian bermunculanlah orang-orang yang mencoba mendefinisikan dengan caranya masing-masing (arbitrer) seperti yang coba dikumpulkan berikut ini :

2. Paul Rotha :

Definisi Dokumenter bukan merujuk pada subyek atau sebuah gaya, namun dokumenter adalah sebuah pendekatan. Pendekatan dalam dokumenter dalam film berbeda dari film cerita. Bukan karena tidak dipedulikannya aspek kriya / kerajianan (craftsmanship) dalam pembuatannya, tetapi dengan sengaja justru memperlihatkan bagaimana kriya tersebut digunakan.

3. Paul Wells :

Teks Non-Fiksi yang menggunakan footage–footage yang aktual, di mana termasuk di dalamnya perekaman langsung dari peristiwa yang akan disajikan dan materi-materi riset yang berhubungan dengan peristiwa itu, misalnya hasil wawancara, statistik, dlsb. Teks-teks seperti ini biasanya disuguhkan dari sudut pandang tertentu dan memusatkan perhatiannya pada sebuah isu-isu sosial tertentu yang sangat memungkinkan untuk dapat menarik perhatian penontonnya.

4. Steve Blandford, Barry Keith Grant dan Jim Hillier :

Pembuatan film yang subyeknya adalah masyarakat, peristiwa atau suatu situasi yang benar-benar terjadi di dunia realita dan di luar dunia sinema.

(The Film Studies Dictionary, halaman 73).

5. Frank Beaver :

Sebuah film non-fiksi. Film Dokumenter biasanya di-shoot di sebuah lokasi nyata, tidak menggunakan actor dan temanya terfokus pada subyek–subyek seperti sejarah, ilmu pengetahuan, social atau lingkungan. Tujuan dasarnya adalah untuk memberi pencerahan, member informasi, pendidikan, melakukan persuasi dan memberikan wawasan tentang dunia yang kita tinggali.

(Dictionary of Film Terms, halaman 119)

6. Louis Giannetti :

Tidak seperti kebanyakan film-film fiksi, dokumenter berurusan dengan fakta-fakta, seperti manusia, tempat dan peristiwa serta tidak dibuat . Para pembuat film dokumenter percaya mereka ‘menciptakan’ dunia di dalam filmnya seperti apa adanya.

(Understanding Movies , Edisi Ke-7, halaman 339)

7. Timothy Corrigan :

Sebuah film non-fiksi tentang masyarakat dan peristiwanya, seringkali mengabaikan struktur naratif yang tradisional.

(A Short Guide to Writing About Film, Edisi Ke-4, halaman 206).

8. Michael Rabinger :

Dokumenter harusnya dibuat dengan hati dan bukan hanya dengan pikiran kita saja. Film dokumenter ada untuk mengubah cara kita merasakan sesuatu.

9. Ralph S. Singleton and James A. Conrad :

Film dari sebuah peristiwa yang aktual. Peristiwa-peristiwa tersebut didokumentasikan dengan menggunakan orang-orang biasa dan bukan actor.

(Filmmaker’s Dictionary, Edisi Ke-2, halaman 94)

10. Edmund F. Penney :

Suatu jenis film yang melakukan interpretasi terhadap subyek dan latar belakang yang nyata. Terkadang istilah ini digunakan secara luas untuk memperlihatkan aspek realistiknya dibandingkan pada film-film cerita konvensional. Namun istilah ini juga telah menjadi sempit karena seringkali hanya menyajikan rangkaian gambar dengan narasi dan soundtrack dari kehidupan nyata.

(Facts on File Film and Broadcast Terms, halaman 73).

11. James Monaco :

Istilah dengan makna yang sangat luas, secara mendasar digunakan untuk merujuk pada film atau program televisi yang tidak seluruhnya fiktif saat menyajikan alam.

(The Dictionary of New Media, halaman 94)

12. Ira Konigsberg :

Sebuah film yang berkaitan langsung dengan suatu fakta dan non-fiksi yang berusaha untuk menyampaikan kenyataan dan bukan sebuah kenyataan yang direkayasa. Film-film seperti ini peduli terhadap perilaku masyarakat, suatu tempat atau suatu aktivitas.

(The Complete Film Dictionary, Edisi Ke-2, halaman 103).

13. Gerald Mast dan Bruce F. Kawin

Sebuah film non-fiksi yang menata unsur-unsur faktual dan menyajikannya, dengan tujuan tertentu.

(A Short History of the Movies, Edisi Ke-7, halaman 64).

14.  David Bordwell dan Kristin Thompson

Justru yang menarik adalah apa yang dikatakan oleh David Bordwell dan Kristin Thompson dalam Film Art: An Introduction, Edisi Ke-5. Menurutnya bahwa inti dari film dokumenter adalah untuk menyajikan informasi yang faktual tentang dunia di luar film itu sendiri. Bedanya dengan fiksi adalah dalam pembuatannya tidak ada rekayasa baik dari tokohnya (manusia), ruang (tempat), waktu dan juga peristiwanya.

15. Misbach Yusabiran

Misbach Yusabiran melalui Penulis Skenario, Armantono pernah mengatakan bahwa dokumenter adalah suatu dokumentasi yang diolah secara kreatif dan bertujuan untuk mempengaruhi (mem-persuasi) penontonnya. Dengan definisi ini, film dokumenter seringkali menjadi sangat dekat dengan film-film yang bernuansa propaganda.

Advertisements
Comments
  1. mareta says:

    bordwell aje dah…
    ditunggu ye postingan laennye…
    tengkyu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s